Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

 - BerNet - untaian lanqkah2 kecil

 

Pages:12
Blog EntryJun 7, '09 11:12 AM
for everyone

Suaka Marga Satwa Muara Angke selalu bikin rindu kami-kami yang selalu berusaha hadir di tiap program rutin JGM, padahal di sana panas, berlumpur, bau dan selalu penuh sampah.

Daya tarik dan keindahan  di balik semua itu adalah hijaunya ranting-ranting mangrove serta bunga merah jambunya, air rawa terlihat tenang tanpa sampah  yang telah diangkat, serta semilir hembusan angin di antara cabang-cabang mangrove dan rimbun daun – daun rumbia membawa aroma sampah pergi jauh...Rasa lelah dan panas terganti dengan rasa ngantuk  ketika beristirahat di bawah rindang pepohonan dekat jembatan pengamatan...

Kali ini pesertanya kebanyakan anak-anak SD, yang kuingat dari kelompok Sahabat Hijau. Terasa pas dengan Thema “Karnaval Lingkungan” Para penanggung jawab kelompok berkostum sampah yang dirangkai menjadi pakaian, rambut, topi ddan lain-lain. Mereka kelihatan ceria dan lucu, diitambah celetukan bocah-bocah yang dengan polosnya melemparkan komen membuat suasana semakin  santai dan penuh tawa..

 

 

Keteka Pak Frank Momberg, pendiri JGM yang juga menjabat sebagai  direktur Pengembangan Flora dan Fauna  International untuk daerah Asia-Pacific menyampaikan sambutannya dalam bahasa Indonesia yang lancar, seorang bocah protes !! “ Bule kok ngomong bahasa Inggrisnya Thank you doang!!!”...Whaa....

Sayang Bersih Angke yang bertepatan dengan Perayaah Hari Lingkungan Hidup Seduania kali ini kekurangan peserta..Jadilah kami  orang dewasa yang jumlahnya  sangat sedikit dibagi-bagi untuk beberapa wilayah  dengan jumlah anggota hanya empat orang di tiap titik.

Syukur Alhamdulillah acara berjalan cukup lancar  meskipun acara dikonsentrasikan pada bocah-bocah. Dari penghitungan hasil perolehan, sampah yang didapatkan tidak banyak karena memang keterbatasan peserta hingga beberapa titik tidak maksimal. Semoga lain kali akan lebih banyak lagi orang-orang yang ikut perduli pada lingkungan lahan basah, khususnya SMMA karena hutan bakau satu-satunya di  Jakarta ini men-supply  oksigen buat penduduk Ibu kota  dan sekitarnya.

Terimakasih JGM dan relawan tidak tetapnya untuk tetap menjaga lingkungan..Bravo untuk kita

Thanks buat teman-teman baru dari Cengkareng;  Birong, Ade dan putrinya, Trims diboncengin  dan sapa lagi ya Maaf lupa  serta  Ian  Ranger dari Gunung Ciremai.Senang bertemu kalian. Sampai jumpa lagi di tempat dan kegitan yang sama.

Semoga selalu terjaga SMMA untuk kita semua.


Blog EntryMar 23, '09 8:44 AM
for everyone

Ada tiga  oleh-oleh berharga  dari perjalanan saya ke Australia  Pertama adalah betapa tingginya penghargaan terhadap air bersih di negeri orang .  Di sana kebijakan terhadap air sangatlah ketat.  Di home stay keponakan saya  penghuninya  tidak boleh mandi  lebih dari  tiga menit!. 

 

Menyiram tanaman di komplek perumahan dilarang. Apalagi saat musim panas mencuci mobil diharamkan. Di mal-mal yang berhias air mancur  harus di-nonactif-kan. Hanya  fasilitas milik negara  seperti taman-taman  untuk publik yang  tanamannya tetap disirami itupun tertentu.  Pemandangan rumput kering terhampar di taman-taman kota  setempat.

 

Jadi membandingkan dengan negeri tercinta.  Alam kita indah , hijau dan masih memiliki hutan.  Sepertinya “ Air kita masih berlimpah”.  Tapi sebenarnya bukan berarti  negeri kita aman-aman saja  harusnya kita sudah harus waspada.   Jangan sampai  kehabisan persediaan air bersih , khususunya buat penduduk  Jakarta  air bersih  kitapun  dalam keadaan gawat.

 

Terbayang luapan air di bak  mandi kecil basecamp tempat saya ngendon di Cibodas….Air gunung yang mengalir  tak henti di  dapur  cuci piring di pondok liburan  keluarga  di Puncak. Juga ketika  mandi berlama-lama …

 

Teringat teman-teman kantor  saat cuci  piring dengan keran terbuka  lebar  atau sekedar cuci tangan  saat sabunan keran  dibiarkan terbuka …

Betapa tidak berharganya air !

 

Di negeri orang sebaliknya ! BUKAN cuma harga perliternya yang mahal  terlebih lagi HARGA  yang harus mereka tanggung dengan menipisnya persediaan air tanah yang masih tersisa. Kitapun kelak bisa seperti itu.

 

Kedua adalah tentang HUTAN …Di sini kita menyebut  "Australia kebakaran hutan !" Padahal di sana itu BUKAN hutan  (khususnya di Victoria) . Mereka menyebutnya BUSHFIRE Kebakaran semak belukar ! .Mereka sudah tidak memiliki hutan ! Sudah  dibabat sejak ratusan tahun silam  dijadikan tempat hunian dan taman-taman raksasa…Sekarang barulah terasa akibatnya  tidak  punya hutan  tidak  punya tangkapan air.

 

Ketika  saya masih ABG sekitar tahun  delapan puluhan  ada lagu yang bagus dari group band The Rollies entah judulnya apa  yang teringat  sebait syair  “Mengapa ? Mengapa hutanku hilang dan tak pernah tumbuh lagi” …Tahun Itu  saja sudah hilang!  Gimana sekarang ?!…..

 

Ketiga  ketertiban terhadap pengelolaan sampah . Bukan berarti  tidak  ada sampah bersereakan  di tempat umum.  Adalah kadang-kadang satu dua  bungkus makanan tergelatak di halte tram atau di bangku-bangku sepanjang jalan. 

 

Yang tertib adalah pengelompokan  jenis sampah di komplek perumahan , hotel, apartments  dan tempat umum.

 

Pada hari tertentu penghuni  tempat tinggal tersebut mengeluarkan bak-bak sampahnya.  Halaman penuh jejeran  bak sampah . Kemudian  disimpan lagi di tempat yang tidak terlihat setelah sampah diambil.

 

Semoga  oleh-oleh ini bisa kita aplikasikan n untuk kehidupan sehari-hari . Lebih menghargai air secara essential.  Lebih luas lagi  sebagai “role model” dalam mengelola sampah memlihara hutan dan memanfaatkan air. Bukan gaya hidup hedonis dan musik luar negeri saja kan yang bisa kita  copy paste ? ..

 

 

 


Blog EntryFeb 16, '09 4:47 AM
for everyone

14 February 2009

 

Kedua kalinya ku ikut kegiatan 3 bulanannya Jakarta Green Monster. Kali ini ngajak teman tetangga dan keponakanku gagal semua. So daku berangkat sendirian ke Lokasi dengan ojeg. Naik bis sendiri ga seru banget dech rasanya.

Sesamapainya di sana kudisambut hangat oleh  Eddy dan <uni Salut juga masih inget aja denganku. Sangat senang dan sedikit prihatin dibilang langka orang-orang sepertiku. Senang mereka ga lupa padaku , prihatain kenapa orang yang mau perduli lingkungan Cuma dikit … (Hmmm besar kepala ku !! )

Untunglah keprihatinanku terhibur dengan melihat Pak Walikota Jakarta Utara ada di sana . Tetanggaan lo Pak kita …Lalu ada tamu kehormatan DCM (Deputy Chef of Mission) Of USA, Jakarta International School ikut berpartisipasi.  Thank you Pak Wakil Dubes Amrica dan Ibu  juga JIS  dan relawan umum.  Orang asing aja perduli masa kita engga ? …Malu sama  Muara Angke  euy…

Kelelahan  berendam di rawa, tercebur berkali-kali  terhapus. Lokasiku sampahnya 89% habis…sampe-sampe daku ditinggalkan  teamku yang anak-anak SMP . Trims Sharon dari WWF dan Teddy dari JGM  yang setia menemaniku. Thank ya DAI TV enggak  memfilemkan  keceburnya aku di situ  he he. Masa gw disiruh jatuh lagi ?!! No way ya!!!

Lebih terhibur lagi seperti  terdengar alunan musik bernuansa  khas  membuatku jadi pengen goyang, mendayu-dayu dari kejauhan ..Rupanya cowok-cowok tampan DEBU sedang menghibur kami .. Woow . Brownies!!! ..

Memaang kegiatan ini tidak membersihkan semua sampah yang berimigrasi dari semua sungai di Jakarta yang bermura di Ange tapi usaha JGM dan relawan  membantu  memelihara habitat flora dan fauna di sini untuk tetap exis sangat-sangat penting.   

Moga daku bisa terus bergabung  in next programme..

Salam bersih

Asiah of BerNet


Blog EntryJan 19, '09 11:29 AM
for everyone

 

Thanks Mba Sulastri..Salam, As

Dikutip dari Milis Femina,

By: "sulastri s riswahyudi" s.septarini@gmail.com   ari_sulastri


Inspirasi ini datang dari kejadian saat aku pulang ke rumah orang tua ku di
Tenggarong kota kecil di wilayah Kalimantan Timur. Aku kangen dengan
masa-masa kecil ku jadi ku buka lagi album foto keluarga kami yang jadul dan
sudah jamuran.

Aku perhatikan di setiap gambar kami (aku dan kedua saudara perempuan ku) di
pinggang kami disematkan sebuah *saputangan* kecil, hampir disetiap gambar
yang ku lihat saputangan itu hadir di pinggang kami, berenda dan beraneka
warna sesuai dengan tema warna baju yang kami kenakan. Ibu memang selalu
menambah penampilan kami dengan saputangan, tidak hanya untuk aku dan
saudara perempuan ku tapi adik laki-laki ku juga bapak (alm).

Sejarah saputangan di pinggang ku

Sebelum tinggal di perumahan perkebuanan coklat milik PT HASFRM Jahab
Tenggarong, kami tinggal di Surabaya. Lalu bapak memutuskan untuk merantau
ke Kalimantan Timur, kebiasaan bersih ibu dan bapak tetap diterapkan kepada
anak-anaknya walupun tinggal di tenggah hutan yang baru di buka untuk sebuah
perkebunan dan perumahan karyawan. Sehingga aku dan kedua saudaraku memang
yang paling menonjol waktu itu. Sejak kepindahan kami ke Jahab ibu yang
tadinya juga bekerja sebagai juru tulis (sekertaris sekarang) di salah satu
perusahaan perkebunana juga di surabaya otomatis jadi ibu rumah tangga biasa
saja dan mengisi waktu luangnya dengan menjahit sendiri baju-baju kami. Dan
disetiap penampilan kami ibu menambahkan sebuah *saputangan* kecil di
pinggang kami.

Aku kira dulu *saputangan* itu hanya untuk mempercantik penampilan saja
ternyata tidak, ingat tidak pada jaman kita masih kecil dulu kalau lagi
ingusan bagaimana ngelapnya?

Begini caranya ; taruh punggung tangan di hidung terus tarik sampai punggung
tangan sebatas pipi, ha ha ha betul tidak ??? Atau kalau lagi nengusap muka
yang agak basah oleh keringat yaitu mengusapnya dengan lengan baju kita. Hal
tersebut membuat teman-teman ku dekil dan amis maklum anak kampung rimba.
Ibuku tidak mau kalau anak-anaknya dekil kotor dan amis, jadi klau aku dan
kakak mau main Ibu selalau menyiapkan dan mengingatkan untuk tidak mengelap
ingusan atau dan keringatan dengan tangan tapi dengan *saputangan* yang
sudah disiapkan ibu di pinggang kami masing-masing.

Ibu ku memeng selalau menyematkan saputangan di pinggang ku dan
saudara=saudara ku, mau sedang main atau sedang dirumah saja sekalipun ibu
tetap melakukan itu. Biasanya ibu menggantungkan saputanggan pada pinggang
kami dengan cara menyelipkan pada ban atau pita di pinggang atau di gantung
dengan cara disematkan (diberi peniti). Sedangkan untuk adik laki-laki ku
yaitu dengan cara menyelipkan pada kantong celana atau baju dengan
menampakan ujung saputangannya sedikit keluar dari kantong. Lain lagi kalau
bapak (alm), beliau juga tidak pernah ketinggalan membawa saputangan
kemanapun beliau pergi ke kantor atau sedang berpergian jauh. Dari ngantor
sampai menjadi sopir angkutan antar kotapun beliau tetap membawa saputangan
dan sisir kecil di kantong celananya, sampai menjelang kepergiannya bapak
tidka pernah mengganti *saputangannya* denagan *tisyu* . Malah aku dan
saudara perempuan ku yang sudah sejak SMP meninggalkan *saputangan* dan
menggantinya dengan *tisyu *sampai saat aku melihat foto masa kecil ku dan
sadar kalau itu salah.

Biasnya kalau bepergian jauh ibu memebawa banyak *saputangan* untuk ganti
kalau *saputangan* yang kami pakai sudah kotor. Itulah sejarah yang sangat
singkat dari *saputangan* di pinggang ku.

Saputangan vs Tisyu Dsb

Apakah *saputangan* yang kami pakai dibuang setelah di gunakan atau kotor?
Tentu saja tidak. Karena *saputangan* bisa di cuci dan digunakan lagi lagi
lagi lagi lagi dan lagi sampai *saputangan* tersebut usang atau robek, juga
tidak menyebabkan apa-apa untuk *Bumi*.

Tidak seperti *tisyu* yang selalu kita buang setiap kita selesai
mengunakanya walau sekali usap. Memang *tisyu * lebih lembut, praktis dan
murah akan tetapi bahan yang digunakan untuk membuat *tisyu* tersebut bisa
membuat *Bumi* kita semakin tidak terselamatkan.

Aksi

Manfaat saputangan tidak jauh-jauh dari *tisyu * yang sekarang banyak
dipakai orang termasuk aku. Secara tidak sadar kita telah *melukai Bumi* ini
dengan menggunakan *tisyu* dari tisyu kering - basah, lembut - kasar, besar
– kecil, ada tisyu dapur, tisyu WC, tisyu makan, tistu muka dan entah masih
ada berapa jenis lagi, dari harga yang paling murah sampai yang mahal. Yang
parahnya lagi sampahnya juga sering kulihat diluar bak sampah.

Padahal jauh sebelum kita, yaitu orang tua kita dulu sudah menjaga dengan
baik *Bumi* kita ini coba kita bandingkan apayang mera kalukan dan kita
lakukan ;

*Mereka dulu mengunakan** saputangan yang bisa di cuci dan digunakan
berkali-kali, ** *sekarang kita ? mengunakan *tisyu** *yang sekali pakek
buang dengan meninggalkan sampahnya dimana-mana.

*Mereka dulu, disetiap rumah yang ku ingat mereka memiliki lubang sampah dan
membakar sampah-sampah mereka masing-masing sehingga tidak perlu TPA,** *
sekarag kita ? pemerintah harus merelokasi TPA karena yang lama
sudah penuh atau sampah yang mengunung karena belum sempat di angkut (itu
terjadi di beberapa kota beasar di negara kita tercinta ini).

*Mereka dulu mengunakan tas kepasar yang itu-itu saja karena setelah dari
pasar tas tersebut akan di cuci untuk digunakan lagi lagi lagi dan lagi jika
kepasar**,* sekarang kita ? hanya bawa dompet a tau kartu saja
karena para penjual sudah menyediakan plastik-plastik untuk menampung
belanjaan kita.

Tulisan ini takan berarti apa-ap jika hanya di baca, dengan segala
kerendahan diri saya mengajak teman teman untuk mengikuti aksi ini hanya
tiga aitem saja memang dan sangat sederhana tapi jika temen-temen berkenen
kabarkan kepada yang lain agar yang sederhana dan tak berati ini menjadi
aksi besar-besaran yang penuh arti bagi *Bumi* kita.

Mohon maaf dan harap maklum kalu tulisanya tidak menarik aku dalah penulis
pemula yang mempunyai segudang ide yang tidak tau bagai mana menyanpaikanya
kepada Dunia.

Kira-kira ada yang berani ndak ya nyobain kembali ke masa-masa dimana bumi
dijaga dengan baik?????

selamat mencoba.

 


Blog EntryNov 21, '08 9:02 PM
for everyone

Senang rasanya menemukan lagi  file tentang Green Festival yang sempet terselip sekian lama.  Karena kebanyakan menyimpan data dalam hardisk ….

 

Meskipun dah agak lama event yang satu ini meninggalkan kesan  yang cukup mendalam. Info  &  tips-tips ringan  yang disampaikan sangat  berguna dan perlu dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

  

Disambut oleh replika bola dunia yang berputar serta bunyi retakan es, ketika kita melangkah di atas gambar yg dipantulkan oleh proyektor.   Di dinding sebelah kiri sebuah  layar  TV  besar  memutar film es mencair  di kutub. Terpa  udara sejuk AC bikin suasana serasa berada di titik terdingin bumi tersebut!!..Enggaklah ...Lebai aja!!

Kesan pertama Kok aneh ya …Tujuannya kan  buat perduli lingkungan …kok Ac, blower, layar TV  di mana-mana dan lampu banyak banget.  Dingiin  & terang benderang.

Ternyata daku dan  sepertinya  semua orang jadi salah  ngerti. Konsep festival dibuat senyata-nyata mungkin ..pasang AC, TV ,  Tape, CD dll .. Disinilah  solusi  mereka  tawarkan   melalui produk sponsor yang mendukung acara ini.

 

Sumber energi yang mereka gunakan untuk AC adalah GAS.  Lampu, neon , bohlam & sorot  merek tertentu, TV, mobil   dsb  semua peralatan yang terpakai di sini  sudah dirancang RAMAH LINGKUNGAN &  HEMAT ENEGRI .Perlu pertimbangkan  dan semoga aja semua produsen mikir dan ngerubah semua produknya menjadi  lebih ekonomis dan ramah lingkungan atau akan ditinggalkan pembeli.

 

Selebihnya banyak banget tips –tips yag harus diketahui semua orang ..Efeknya  multi guna  selain kita sudah berparisipasi dalam hal aksi untuk merawat  bumi,  secara langsung kita akan lebih irit membayar tagihan listrik , air dll.

  

 

 

Keluar dari hall pertama ..akupun meluncur ke hall sponsor , Pertamina Unilever dan Panasonic..di sini display semua produk yang ramah lingkungan … ada contoh benda dari bekas kemasan semua produk yg diproduksi unilever.

Buat yang mau cari tambahan, bisa tuh ngupulin semua bekas kemasan produk unilever ..bisa jadi tas, payung , sandal, shower curtain dll. Lucu-lucu  juga jadinya.

 

Buat  yg bingung  mau dikemanakan sampahnya ..boleh dikirim ke Bank SAMPAH milik Uniliver ..

 

Stand sepeda cukup menarik ..buat ngurangin emisi ..Better bike to work …tapi harga sepeda kok  mahal bener yah ?? …  dari 750 rb   sampe  24, 25, 27, 29 JT!!!  MY GOD !! ..

 

Wah ada juga temenya lingkungan, kantong blanja dari singkong! ..Jangan bayangin singkong goreng atau rebus dech ! di sini  bahan utama tetep plastik tapi sudah diolah sedemikian rupa ditambah singkong !! ..tapi kok daku lupa nanya ya?  ..apanya singkong yg dijadikan campuran ...?  pertanyaan lenyap dengan terdorong ke sana ke mari  oleh desakan orang . Tapi bisa di hubungi  melalui e-mail Pak Maryanto program officer. Nama benderanya DANA MITRA LINGKUNGAN

 

 

Daku sangat terkesan ama lagunya mas Katon "Pak Soma" ..cerita ttg  Bapak tukang sampah dan gerobak tuanya di kota tempat tinggal Mas Katon ketika kecil. Iramanya enak , syairnya indah ..Direkam dong Mas ..Bagus dech buat penghargaan kepada para tukang sampah..

 

Sayang seribu kali sayang ..pengunjung MASIH juga ada yang cuma numpang lewat,  “ pesan moral  festival ini” Enggak DIPERHATIKAN!. Selesai makan,  sampah ditinggalin begitu aja , ada lagi orang ngebuang  se-enaknya sampah yang nempel ditangannya tanpa ngeliat dia sedang berada di mana ? .. Please dech tinggalin cara  monyet Pake Cara Manusia !!! 

  

Yuk lihat apa aja tips yang sempet aku  catat dengan kameraku di Album sebelah.

 

ABer


Blog EntryJul 9, '08 8:07 AM
for everyone
Kita semua kalo ngedenger kata « sahabat » pastilah udah tau. Sahabat tuh orang yg paling kita sayang. Demi sahabat, apapun dilakuin. Meskipun kita lemah, akan selalu dapat cara supaya persahabat kita terus berjalan, ga putus hubungan, bikin dia ngerasa nyaman dan menerima dia apa adanya.

Filosofi kata « sahabat » yang digagas oleh para relawan untuk memelihara dan menjaga keberadaan kedua gunung kondang tersebut terasa sangat pas.
SGP merupakan media Kampanye penyadaran pengunjung Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP). Emang pingsan apa kok disadarkan segala?. Secara global memang ! pingsan lingkungan lebih kronis lagi mati suri lingkungan. Siapa aja boleh kok menjadi sahabat Gede Pangrango.
Ngapain siy kita bersahabat ama Gunung, kan ada pencinta alam ! …Mengingat “Cinta” itu penuh kondisi atau persyaratan bahkan bisa luntur ! … Ya mendingan kita jadi sahabat!. Sebagai sahabat, apakah kita kaya , miskin, punya duit ga punya duit, kita rela kok ngebuat Gunung itu tetep bertengger di situ.
Pengen lingkungan di sana tetep hijau, konsis flora dan faunanya terpelihara, ekosistimnya ga berubah supaya 3 sumber air terjun di sana terus dapat terjun dari puncaknya…
Ngerasain sentuhan lembut & sejuknyapercikan-percikan air yang dibawa angin atau bergidik kedinginan di bawah terjangan kuat aliran air yang terjun bebas dengan derasnya dari ketinggian sana. Atau hanya sekedar duduk-duduk mengobrol menikmati pemandangan indahnya.

Caranya bisa dengan tenaga, materi, ide, pikiran & relasi, kalo memungkin acces ke lembaga penting yang terkait. Punya kenalan pejabat or anaknya kali,dll dech !

Paling engga, ya usaha ga ninggalin sisa & bungkus makanan, karena bisa dicicipi oleh hewan-hewan yang hidup di sana ! Repotkan kalo dia doyan ?! bisa migrasi ke kota, saingan ama kita. Paling parah kalo keracunan ! Musnah dong kekayaan alam fauna Indonesia sediiiih bener!! Sebagai sahabat .mana tegakan ?!..

Di sinilah tenaga dan pikiran kita bisa disumbangkan : “Bersedia ngebawa lagi sampah yang kita hasilkan dari bekal-bekal piknik walowpun hanya secarik bungkus permen misalnya. Artinya Nyediain tenaga buat bawa sampah dan mikirin kerusakan yang diakibatkan oleh sampah pada sahabat kita Taman Nasional Gede Pangrango. Tau dong sampah zaman sekarang bahaya banget bagi lingkungan !! trus bayangkan yang terjadi nanti …Ga rela banget kalo air terjunnya lemah trus cuma netes doang ! Udah terjadi loh di Ujung Genteng! Air terjunnya jangankan loncat! Netes aja enggak alias kering kerontang !! (berduka cita sedalam-dalamnya pas gw ke sana rencana mandi di air terjun di-skip)

Mengenaskan sekali , masa ada yang tega nian ninggalin  styrofoam bekas dia makan PERSIS di bawah plang!!!!

Trus pas sampe ke Puncak Gede atau Pangrango panoramanya tumpukan & serakan botol minuman, kardus-kardus, bungkus mi instan, sachet kopi,teh kantong plastik, bungkus permen !. Mana Edeilweissnyaaaaaaa ?! Andai tu gunung bisa ngomong dengan susah payah dia akan jawab ; ” Keracuan sampah mas pendekiii.. huks huuuks !!” Sekarat!

Pendaki yang mengklaim dirinya “Pencinta Alam” menurut kami yang baru-baru ini mempelajari ETIKA di Alam( Berkunjung & Mendaki gunung ): Pendaki gunung yang ada selama ini lebih cocok disebut “Penakluk Alam” mereka punya kebanggaan tersendiri udah nyampe ke puncak sebuah gunung ternama. Saking bangganya , aksi menuliskan nama, baik pribadi maupun perkumpulan terjadi. Padahal udah jelas dilarang membawa spidol, pilox dll. Anak baru bisa nulis apa yak ? tolet-tolet cembalangan !


Yah kalo cinta masa siy sampah ditinggalin begitu aja di mana mereka nongkrong ?? Ngisi list barang bawaan aja males ..Ngumpet-ngumet bawa spidol ? . Nah lo!..

Imagine bayangkan, menurut keterangan dari Bapak Sugeng penanggung jawab kegiatan di TNGP, jumlah pengunjung 40.000s orang/tahun.Pada tanggal 17 Agustus mencapai jumlah 16.000 orang! Selama 2hari1 malem. Rata-rata pengunjung berprilaku & berkeinginan seperti itu ? trus buang AIR besar kecil sembarangan pula! Iiiiih …ngebayanginnya aja ga mau dech !Puncak GP penuh grafiti, sampah & ranjau-ranjau lembek berbau !!! Yack!!! Serta bersiko gundulll. Lalu apanya yang indah ? Kalo dibiarkan, aset berharga bangsa kita ini akan ilang !


Tadinya gw sempet protes keras “Kenapa sih Pak ?!! ga disediain tempat sampah di wisata alam ?! Pas dijelasin alasannya , gw ngerasa oneng sekalii ! Bener banget ! Sapa yang ngambilin sampahnya ?? truk kita ga canggih ! gunung gitu! … ”Suruh bawa balik aja Pak ! “Sudah kami sarankan !” “ Pasang plang Pak ! “ Juga sudah ada… Jawab Pak sugeng dengan bijaksana. Emosi jiwa gw dengernya “ Digalakin aja Pak!. Dengan senyuman saja beliau menanggapi saran buruk gw itu. Sampe-sampe gw ngusulin ditutup aja ! Ternyata emang udah diprogramme ditutup selama 3 bulan/tahun. Kecepetan Pak ! setahuan ! wah jawabannya panjang dan mengakibatkan banyak orang yang akan rugi. Jadi kehabisan fikiran gw ..Kok ga nemu solusi ya ?!

Dari dialog ini, gw jadi ngerti kenapa TNGP ga boleh tutup terlalu lama. Pedagang, supir angkot dan pengusaha kripik bayem , tempe dll akan kehilangan mata pencaharian.

Makasih Pak Didin, penjelasannya. Terus berjuang ya Pak!


Semuanya emang tergantung manusianya. Kami bertujuh hanya bisa termenung . Menyedihkannya orang seperti itu jumlahnya lebih besar. Kalo aja mau perduli, buka hati & memikirkan segala akibatnya bagi “KEHIDUPAN” tentulah segala persoalan yang melilit-lilit ini teratasi.

 

Untunglah ada para relawan yang bersedia ngebantuin Bapak-Bapak di atas. Tugas mereka ngingetin temen –temen yang mungkin sedang enggak engeh , cuek atau niat banget mengukirkan prasasti namanya di puncak sana. Meriksa ulang ,kalo-kalo bawa golok! Trauma pernah kejadian ada  yang ditodong dengan benda tajam model gitu. Ada juga yang tetep nekat untuk memenuhi request seseorang yang pengen dibawain bunga EIDELWEIS ? … Mungkin bisa dibanggakan di depan gebetan ? ..



Sebagian Penakluk alam dan pengunjung ini kadang ga terima kalo ditegur melanggar larangan atau diingatkan, malah marah-marah kalo diberitau . Ga heran lah relawan bisa naik darah. Udah dapat piala citra AROGAN dari para Penakluk alam katanya.


Relawan yang menjadi motor aktivitas untuk SGP mengabdikan diri secara sukarela hampir 90% dari kehidupannya untuk menjadi sahabat bagi Taman Nasional Gede Pangrango yang merupakan daerah tangkapan air terbesar untuk daerah Jawa Barat, termasuk Jakarta kita tercinta.

Menngetahui latar belakang para relawan yang menurut gw secara pribadi mereka itu PAHLAWAN, sangat unik.


Sebagian kecil Ngaku berasal dari anak-anak muda yang khilaf & kualat (K2) . Khilaf memakai obat terlarang Kualat ga dengerin pesan orang tua. Mereka mengibaratkan diri mereka sebagai ( maap ya) ANJING! Entah kenapa dg anjing, dianggap binatang yg layak disumpahi. Bukan cuma di negeri kita kalo marah dg ngatain anjing, di Eropa-pun sama!. Padahalkan anjing binatang cerdas, setia & penurut yah?!

begitu, anak-anak muda yang K2 memiliki hati yang luar biasa , mereka menyimpan rasa cinta yang besar terhadap alam, khususnya gunung. Rasa inilah yang justru mengembalikan mereka kepada jalan yang benar. Mereka hafal nama hewan pohon, rumput bahkan fungsi-fungsinya bagi kelangsungan hidup Taman National. Bukan hanya nama dalam bahasa umum loh ..tapi bahasa latinnya juga . Hebatkan?! ..


Menjadi relawan, bukanlah hal mudah. Sementara banyak orang yang udah ngerasa ga berguna setelah kecanduan obat-obatan atau yang memang udah nyandang status sarjana sibuk mikirin gimana dapat kerjaan yang baik dan bergaji besar sebaliknya para relawan ini bekerja tanpa gaji. Gw sempet bingung.


Menyedihkan sodara-sodara! …Mereka bertahun-tahun mengais sisa-sisa makanan di BAK & KANTONG SAMPAH!. Duuhh!! (Makanya adek-adek , yuuk denger apa kata ortu & hormati mereka yaa. Untung kalian nyadar)

Namanya juga relawan, ga ada yang namanya gaji , Taman National hanya menyediakan rumah untuk berteduh yang mereka beri istilah SEKRTERIAT RELAWAN … Kebetulan yang gw tiduri selama belajar di sana namanya Sekretariat Relawan MONTANA, jalur pendakian GP melalui arah air terjun CIBEUREUM.

Rumah sederhana ini merupakan tempat anak-anak penikmat alam (begitulah para relawan lebih suka disebut) beristirahat. Mereka bersedia sharing ilmu bahkan menampung partisipan SGP yang ingin bergabung untuk aktivitas akhir pekan yang penuh pengunjung.

Sebagai perwakilan dari komunitas BerNet pelajaran “Menjadi Tamu yang Baik di Alam” dapât kami aplikasikan dalam misi kami yang setipe dengan kegiatan yang gw ikuti selama 2 hari 2 malem ini.


Alhamdullilah banget telah dipertemukan dengan anak-anak Montana, suppoter yang datang barengan gw Jum’at malem dan kami memperaktekan secara langsung Etika bertamu di alam

Selama ini kesadaran gw sebagai pengunjung baru sampe taraf “sampah ga boleh ditinggalin, ga ngerusak , ga ngambil atau nanam pohon duren or pohon2 favorit dit4 yg gw datangi” tapi kalo masang MP3, ketawa gede dan brisik banget, iya !!! . Ternyata itu ga baik , kalo mo dengerin mp3 ya di Jakarta aja ! Suara-suara yang bukan alami & ga beraturan akan membuat hewan-hewan di Taman Nasional ini lari , rugi bangetkan ga bisa liat secara langsung padahal mereka ada di sana.     

Jangan-jangan takut tu hewan kecanduan dengerin musik !…Terlalu brisik dengernya bete dia , gw beresiko diserang ! mengganggu mereka lagi tidur siang! Hewan juga kesel denger suara manusia yang cempreng! Maapin gw ya alam.


 

Selain itu kita juga perlu tau sepatu dan pakaian yang cocok dipake kalo berwisata alam!

( sapa juga yang ga tau! Yéé ) Banyak yang gau tau ! ...Kemarin kami ketemu orang-orang nyeker kirain untuk kesehatan ! ga taunya sendalnya putus, ada juga kakinya lecet, saltum tuh ! Padahal bisa bikin sakit telapak kaki, batunya keras ! (namanya juga batu ! )


Belum lagi udara di sekitarnya …khusus malem, brrrrrr..Gw sok sekali! males bawa sleeping bag ! ...Paling kayak di puncak! Pake selimut kain pantai juga cukup. Adanya help help ….ga bisa ngorok tenang !! kedinginann…..brrr brrrr zzzgrog brrr zzzgro brrrrrrrr zzg brrrr brrrrrrrrrrrr . Syukur Alhamdulillah , ukuran dingin itu merupakan signal baik ! .


Dengan bekal pengetahuan ETIKA ALAM juga dah tau cara Aman mendaki serta berwawasan lingkungan gw mau coba merayap sampe puncak GEDE atau Pangrango suatu heri nanti.


Teringant lagu manisnya Michael Jacksons 

»HEAL THE WORLD »

make a better place , for you and for me and the entire human race ...



Soo .. let’s do it

My special thanks to :

 

 

Menyebarkan virus SGP padaku , memberi pengarahan, menjadi guide dan mentor kami untuk kegiatan SGP


Sebagai pelatih “anjing” anda sukses!! Bravo!


 

Istri tercintanya Herry, trims nemenin. Masa gw jadi peri sendirian di MONTANA LAND.


Sampe jumpa lagi

 

 

Indra alias Begeng yang jago masak (anak lulusan perhotelan loh!) , sayur daun singkong brokoli & omelet nanas lu yummy bangets , sayang ga sempet gw foto ..keburu kalap …ludesss. Thanks sebelumnya juga loh mau nganterin ke lokasi jalur pengamatan burung!.


Legenda Ambu dan Prabu siliwangi merupakan khasanah dongeng yang belum sepopuler Sangkuriang.

Tetep certain ke setiap pengunjung meskipun beresiko bibir lu makin maju …

Serasa dengerin dongeng sebelum tidur denger ceritamu.  Good job !

 


 

Wendy, sing sabar yah  menghadapi para Penakluk alam yg garang!


Mereka ga tau !! Tanpa bantuan kalian, lama-kelamaan kita ga akan punya kebanggaan di Jawa Barat sini ! Mau naik gunung, ke Irian sana! Jauuuuhhhhh...



 

 

Mantra kuman kamin lu sangat berguna buat ngebunuh kuman-kuman ..Waktu gw bikin cah brokoli wortel .. panik hampir gosong bumbu nya, secara belum bersahabat ama kompor model begitu, channelnya ga pas ! tuning gw puter api makin gede !, Langsung cemplungin brokoli eh salah masukin .. itu tuh yang blm gw cuci!! yang dah bersih agak jauh ! (maaaf ya all ?!. malem tu gw lupa ngaku) Syukur terbukti tu mantra mujarab. Min kuman kamin , semua kuman jadi vitamin ..Amiiiiin.


Warning!!

Dilarang keras menggunakan mantra ini tanpa izin Dukunnya atau dihukum dukunnya tidur alone @ Telaga Biru ..

Thanks udah mau nemenin moto-moto sambil bawain tripot waktu kita berburu cabe! Nungguin dengan sabar saat gw ngejepretin bunga-bunga di sepanjang jalan menuju warung pulang pergi. Jauh & lama…capé deech!


 

 

 

Pria handuk merah. Makasi ya bawain tripot gw waktu kita praktek  jalan-jalan ke air terjun. Sori banget udah jauh-jauh ke depan gw jeritin , karena ga boleh ngejerit, terpaksa lu gw larang jauh2 dari gw ..padahal lu malu deket-2 gw .

Iya gw emang eror ! …Tapi tumbuhan & bunga-bunga sepanjang jalan cantik-cantik HARUS gw abadikan. Liat aja contohnya nih ...



 

 

 

 

Thanks mau ngebawain barang-barang gw yang berserakan di Cibeureum.


Lu kudu ikut lagi...Gunung dan air terjun perlu jubir kayak elu ... kampanye ....tapi kalo lagi kampanye jangan sampe merem melek gitu dong!


 

Trims bawain tas punggung gw yg sangat cewe… Gara-gara ada yg ninggalin kardus kosong! gw jadi banyak bawaan . Imbasnya sepanjang jalanlu diliatin orang (padahal udah GR tuuuh) . Secara ga sadar tangan lu yang nyantel tas jadi kayak Tessy, ke atas sebelah !


Eh salah ya ?? adanya juga gue yg diliatin .. he he



Makasih ya Yus , nganterin sampe Taxi di Terminal Kampung Rambutan ! , ni terminal asing buat gw ! maklumlah gw kenalnya  terminal Senen en Pulogadung doang!


Kalo ke Sana lagi nanti, kita bareng yah!!!



Setelah gw renungkan , kalian semua porter & pengawal gw rupanya. (baca ; baik hati banget ) Itulah enaknya jadi satu-satunya cewek! ….


Akhirnya

For Montana Boys : Tenang aja ! apapun citra yang orang anugrahkan pada kalian, penghargaan setinggi-tingginya melebihi puncak GP dari kami yang sehati dengan kalian .

Keep on fighting guys!


Buat semua,

Mohon maaf ya atas perbuatan gw yang menyinggung atau becanda yang keterlaluan, kata-kata dan semua di luar kesadaran gw selama kita bersama. Semoga niat, rencana & program yang kita bicarakan untuk expressi keperdulian terhadap lingkungan yang kita harapkan berhasil , berkesinambungan & berharap dapat menambah simpatisan.


Salam


SGP


Ka’As



 


Blog EntryMay 14, '08 3:58 AM
for everyone
Hindari penggunaan sumpit sekali buang, kalau perlu bawa sumpit sendiri saat bepergian. Save the earth save your self.

Blog EntryMay 5, '08 5:35 AM
for everyone
Sedotan hanya dipakai beberapa detik, langsung dibuang ke tempat sampah. Hindari penggunaan sedotan untuk kurangi sampah. Save the earth save your self.

Blog EntryDec 16, '07 8:46 AM
for everyone
Minggu tgl 16 Desember ini BerNet berkunjung ke desa Susukan Cijantung. Letaknya ternyata tepat di depan mall Cijantung. Dari jalan tidak kelihatan keistimewaan dr wilayah ini, kecuali tembok yg mengapit jalanan digantungi dengan berbagai pot tanaman. Paling hanya namun setelah beberapa puluh meter baru kentara rumah2 kompleks BLK yang sederhana tetapi tertata apik.
Setiap pekarangan kecil di sini dipenuhi dengan berbagai jenis tanaman baik tanaman hias, buah maupun tanaman obat. Beberapa rumah yg memang halamannya habis ditembok menghadirkan kehijauan dengan berpuluh2 pot yg ditata asri di atas semen maupun rak yg sengaja mereka buat untuk display tanaman.

Asri, hijau, sejuk. Begitu kesan pertama kami saat melewatinya. Warga daerah ini tampaknya pecinta tanaman semua. Adalah Bpk Suprijadi yg menjadi pelopor gerakan hijau di pemukiman ini, setahun yg lalu. Berawal dari kecintaannya terhadap tanaman. Kebetulan ketua RT di sana menunjuk beliau utk menata lingkungannya demi mengikuti lomba kebersihan lingkungan. Beliau didukung bapak2 yg juga penggila tanaman serta ibu lurah berusaha mengkampanyekan gerakan penghijauan dari rumah ke rumah, melalui wadah arisan dan pertemuan. Setiap rumah dihimbau untuk memelihara 5 – 10 toga alias tanaman obat keluarga. Ternyata upaya keras mereka membuahkan hasil. RT 08 berhasil meraih juara 1 tingkat kelurahan, mereka kemudian mewakili kelurahannya ke lomba tingkat kecamatan. Menang lagi. Terus naik ke tingkat kotamadya, lagi2 menang. Sampai akhirnya tingkat DKI… so pasti menang juga.

Dari situ tercetus gagasan untuk membuat kompos sendiri untuk tanaman mereka. Selain itu, prakarsa ini ikut membantu pemerintah mengatasi masalah pengolahan limbah rumah tangga. Inisiatif mereka ini didukung oleh pak Maskana dkk (Ri, pak maskana itu sapa ya? kok gw ga tahu ya? orang KLH kah?). mereka memberikan pelatihan membuat kompos. Kompleks yg terdiri atas 80-an rumah tersebut lantas diperlengkapi dengan tempat pembuangan sampah. Di situ di sediakan penampungan untuk sampah basah, sampah kering dan sampah bahan berbahaya dan beracun; dan tentunya tempat untuk mengolah sampah menjadi kompos (Pak Kawit menjadi penanggung jawab di penampungan ini. komposnya boleh diambil cuma2 oleh warga) Dengan cara itu, truk sampah yg biasanya datang 3 minggu sekali tahun ini baru 2 kali saja untuk mengangkut sampah anorganik yg tidak dapat diolah jadi kompos.

Warga masyarakat diajari untuk memilah sampah sejak dr rumah dan membuangnya sendiri ke penampungan. Kesan penampungan sampah yg jorok, kotor dan bau nyaris tak terlihat di tempat itu. Tanah di sekitar penampungan dijadikan kebun yg ditanami sayuran dan buah2an. Dr situ kita malah dapat pohon cincau yg dicari2 sejak dulu. Wah senangnyaaaa….

Tahukah kalian kalau kompos itu ternyata tidak hanya berupa kompos padat? Di tempat Pakde Supri kami baru tahu ternyata kompos ada jg yg berbentuk cair. Di daerah susukan ini bahkan kompos cairnya beraroma buah. Tinggal pilih mau kompos aroma nanas, pisang atau jeruk… tergantung bahan apa yg menjadi dasar pembuatannya.

Ternyata untuk membuat kompos cair itu tidak sulit lho. Pakde dengan senang hati mengajarkannya pada BerNEt. Kita cuma perlu menyediakan buah2an busuk, karung plastik bekas beras, ember, gula, dan air sumur yg belum diberi kaporit. Setelah semua bahan dan peralatan tersedia, tinggal ikuti langkah 1, 2, 3 :
1 kg buah busuk (termasuk daging, kulit dan bijinya) dicacah kemudian dimasukkan ke dalam karung beras.
2 ratus gram gula dicampur dengan
3 L air sumur.

Masukkan karung berisi buah busuk ke dalam ember dan tuangi dengan air gula, lalu tutup rapat. Bakal kompos cair ini harus diaduk setiap 3 hari sekali. Tunggu sampai satu bulan. Jadi deh kompos cair. Gampang banget kan? Sebelum diberikan pada tanaman, setiap 1 liter kompos cair harus diencerkan terlebih dahulu dengan 100 L air, kalau ngga, tanamannya bisa over dosis hehehe.

Hnaaah, pembuatan kompos padat juga sangat mudah lho. Konon hampir semua limbah rumah tangga bisa digunakan, kecuali daun salam, daun rambutan, masakan bersantan, dan janur bekas ketupat pembuatan kompos cair ini lalu bisa diolah lagi jadi kompos padat. Tinggal dimasukkan ke dalam tong sampah yg sudah dibolongi kecil2 di sekelilingnya. Pertama dasar tong diberi kompos yg sudah jadi setebal kira2 2 cm. baru masukkan sampah organik. Setelah itu lapisi lagi dgn sekam atau tanah biasa juga boleh atau serbuk gergaji. Timpa lagi dengan sampah. Terus begitu berlapis-lapis. Tutup tong sampah dan aduk setiap 5 hari sekali. Dlm waktu 2 bulan kita akan memperoleh kompos padat. Tapi proses pembusukan ini bisa dipercepat kalau kita menyiramkan kompos cair ke bahan pembuat kompos padat. Ada yg tertarik untuk menjadi juragan kompos?

Setelah pakde Supri menunjukkan pada BerNet cara membuat kompos, beliau didampingi isteri tercinta, pak Kawit dan ibu RW Syukur mengantar kami berkeliling melihat-lihat kompleks perumahan BLK yg ijo royo-royo dan daerah perkampungan di pinggir kompleks yg juga tertular virus penghijauannya pakde Supri. Wah hebat. Di daerah pemukiman sederhana ini warga yg rumahnya ga punya halaman sampai menaruh pot2 tanamannya di sepanjang pinggir gang lho!!! Salut untuk pakde dan kawan2!!! Bahkan kabarnya kampung sebelah juga jadi ikut2an panas dan mulai menanam berbagai pohon di jalan dan halaman.

Di Susukan selain bisa mendapatkan kompos kita juga bisa menemukan berbagai bibit tanaman. Bahkan tanaman langka seperti buah nona, buah maja, melati telur… ada pula kebun pembibitan aglonema (??? Bener ga sih? Maap gw ga kenal namanya hehehe). Heny n Asiah dengan hebohnya memborong tanaman sebanyak yg bisa mereka bawa.

Setelah puas berkeliling kami disuguhi rambutan yg langsung dipetik dr pohonnya oleh pakde Supri dan Heny. Segarnyaaa… panas-panas begini. Setelah menyikat sejenis sumpia dan menandaskan rambutan, kami pun berpamitan. Hwah banyak sekali pelajaran yg didapat hari ini dr Susukan. Terima kasih Pakde dan Bude… juga pak Kawit dan Bu Syukur.

Blog EntryDec 12, '07 5:47 AM
for everyone

From Oprah Winfrey SHOW & milis tetangga

Perlu diketaui dan mari beraksi :

  1. Sebaiknya selalu mencabut sambungan listrik alat elektronik meskipun sudah dimatikan = menghemat 40-50% biaya listrik yang harus kita bayarkan tiap bulannya....Hal itu sangat membantu mengurangi panas yang timbul dari alat elektronik yang merembet ke pemanasan global.
  2. Kantong plastik butuh waktu 1000 tahun untuk terurai di TPA(tempat pembuangan akhir). Sekitar 300 juta buah kantong plastik dibuang tiap tahunnya di Indonesia .Belum lagi yang dibuang di sungai belakang rumah dan tempat2 yang tidak semestinya. 10kg kertas koran yang siap di jual loakan... itu membutuhkan 1 pohon yang butuh waktu puluhan tahun untuk jadi besar. Bayangkan yang terjadi dengan illegal logging... Berapa banyak pohon yang ditebang ? Makanya bumi semakin HOT !!!
  3. Ketika kita membeli 1 liter air mineral di supermarket beli 5 liter air. Tau ga siyy ? untuk mendinginkan botol plastik panas yang baru dicetak, membutuhkan 5 liter air.. untuk 1 botol !!! bayangkan produksi yang kian ribuan botol ? ngitungnya juga udah berat . Ternyata botol plastik kemasan air mineral yang dijual itu yang aman digunakan sebagai botol ada KODEnya .Perhatikan tanda di bawah botol, cari nomor 2, 3 atau 4.... selain nomor-nomor itu... TIDAK AMAN ! karena sama saja kita makan plastik!!!! Aihh kuda lumping aja ga doyan !!!
  4. Tisue yang sudah dipakai ga bisa didaur ulang (recycle ) ... sama halnya dengan karton-karton yang bekas kena minyak, makanan, kue, minuman... hanya benar-benar SAMPAH belaka, kudu dibuang ! Pekerjaan extra berat buat TANAH yang harus merecycle semua itu. Perkiraan garis besar, minimal orang memakai tisue 6 lembar/hari . Gw aja bisa 10 lembar dech !!! 2.200 lembar setahun. Berarti kira2 44 MILIAR lembar seluruh Indonesia setahun... Kalau kita hemat 1 lembar aja tiap hari... berarti kita mengurangi sampah kertas sebanyak 7 MILIIAR lembar setahun... Lumayaaan.
  5. On ATM & Supermarket rata-rata ngeluarin kertas receipt...Transaksi lewat ATM & supermarket kira-kira 18 MILIAR kali perhari. Bayngkan kalo di sambung sepanjang apa ? ..salah satu sumber sampah terbesar di dunia juga nih. Kalau selama setahun orang transaksi ngga pake kertas receipt, itu akan menghemat satu roll besar kertas yang bisa buat melingkari garis equator sampe 35 kali...
  6. Minimal punya 2 macam tempat sampah dirumah, sampah basah dan sampah kering Lebih baik lagi ntuk memisahkan sampah sesuai dengan kelasnya :
    • Plastik =pembungkus makanan, kantong kresek, kantong belanjaan Kertas pembungkus gorengan, popok bayi, pembalut , tisue yang sudah dipakai
    • Rumah tangga = Sampah sayuran, sisa makanan , masakan, daun, tulang ayam, sisa capcay, makanan basi, minuman,& sejenisnya. Jika dibuang , butuh waktu 2 bulan untuk menjadikan sampah jenis ini menjadi kompos yang bisa dipakai lagi untuk pupuk tanaman...
    • Logam : kaleng susu & kaleng makanan
    • Kaca : botol, pecahan gelas dll sejenis
    • Buku bekas catatan, kertas2 tagihan, koran, kertas iklan & majalah dipisahkan, kasih tukang loak buat beramal

DISCOVERY CHANNEL : PLANET EARTH menanyangkan serangkai perjalanan keluarga Polar Bear or beruang kutub yang kelelahan , mereka harus berenang perpuluh-puluh kilo meter untuk mencari daratan es tempat berteduh....tapi karena global warming di Kutub Utara, RUMAH mereka MENCAIR. Akhirnya Mereka MATI. Really sad ending FACT !! . Menyedihkan !!!

    Kata tante Oprah  pada kesempatan itu dan gw setuju banget "For the sake of ourselves! Save the world, save our life’s, save our children, Gw tambahin "Save our PLANET" Ayo kita mulai melakukan hal kecil di lingkunngan kita sendiri, apakah cuma sekedar mencabut colokan TV, komputer or kipas angin dll. Just yang ringan & lucu aja. Bisa lebih dari itu ? ..BAGUS bangett !!

    Let’s BE GREEN & CLEAN

    Bernet Crew

    AS

    More info ? klik www.oprah.com


Blog EntryDec 5, '07 6:02 AM
for everyone
Rabu, 05 Desember 2007 

Lubang Biopori Bisa Cegah Banjir
Memakai Teknologi yang Sederhana

Jakarta, Kompas - Salah satu penyebab banjir di  Jakarta adalah rendahnya serapan air ke dalam tanah. Lubang resapan biopori yang dikembangkan oleh Institut Pertanian Bogor diharapkan bisa mencegah banjir sekaligus menghasilkan kompos dan menyerap karbon. 

Pembuatan lubang resapan biopori (LRB) ini disosialisasikan Kamir R Brata, pengajar pada Bagian Konservasi Tanah dan Air Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB, di depan Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto, di Sekolah Jubilee, Sunter, Jakarta Utara, Selasa (4/12). 

LRB adalah lubang berdiameter sekitar 10 sentimeter di tanah sehingga air bisa mengalir masuk ke tanah. Di lubang itu dimasukkan sampah organik yang diharapkan akan dimakan oleh organisme yang ada di dalam tanah. Dengan demikian, akan tercipta lubang-lubang kapiler kecil di dalam tanah. Dengan adanya lubang kapiler di dalam tanah, maka penyerapan air ke dalam tanah juga semakin banyak. 

"Selama ini yang terjadi, air hujan tidak bisa masuk ke dalam tanah sehingga terjadi genangan besar di permukaan. Air hujan yang bisa menjadi sumber air bersih dari tanah akhirnya tidak bisa dimanfaatkan dan terbuang ke laut," kata Kamir. 

Selain bisa mengurangi genangan di permukaan tanah, sampah organik yang dimasukkan ke LRB itu juga bisa menjadi kompos yang berguna sebagai penyubur tanah. 

Menurut Kamir, LRB ini sebenarnya sudah diciptakan sejak tahun 1976. Namun LRB tidak populer karena memakai teknologi yang sangat sederhana sehingga kurang menarik. 

"Pembuatan LRB sangat mudah, hanya memakai bor tanah. Setelah itu, masukkan sampah organik. Sangat sederhana. Saya sudah pernah memperkenalkan LRB ke beberapa pihak, tetapi tidak ada tanggapan. Baru bulan Februari lalu, ketika banjir besar terjadi di  Jakarta , orang mulai melirik LRB," ucap Kamir. 

Bisa dilakukan siapa saja

Selain memakai teknologi sederhana, LRB juga bisa dilakukan siapa saja dan di mana saja. Di halaman seluas 50 meter persegi, bisa dibuat sebanyak 20-40 LRB. Jarak pembuatannya tidak diatur, asalkan letak lubang tidak bersebelahan. 

"Kedalaman lubang ini sebaiknya tidak lebih dari satu meter karena organisme di dalam tanah juga membutuhkan oksigen. Jika terlalu dalam, dikhawatirkan oksigen tidak masuk hingga ke dalam," kata Kamir. 

Untuk peralatannya, yakni bor tanah, IPB juga telah menciptakan khusus dan dijual dengan harga Rp 175.000 per buah. "Alat ini tidak perlu semua orang punya. Cukup dikoordinasi oleh RT/RW setempat, dan pemakaian alatnya digilir dari satu rumah ke rumah lain," ujar Kamir. 

Satu-satunya kewajiban yang harus dilakukan manusia dalam penggunaan LRB ini adalah memberikan pakan berupa sampah organik pada periode tertentu. Sampah organik yang dimasukkan ke lubang akan menjadi humus dan tubuh biota dalam tanah, tidak cepat diemisikan ke atmosfer sebagai gas rumah kaca. Dengan demikian, pemanasan global pun dikurangi. 

"Bandingkan jika kita membiarkan sampah itu tetap di permukaan. Sampah itu akan melepaskan karbon ke udara, yang membuat semakin banyak gas rumah kaca di atmosfer," lanjutnya. 

Dengan upaya yang tidak terlalu berat namun hasil yang dicapai sangat luar biasa ini, seharusnya warga  Jakarta sudah mulai membuat LRB di rumahnya. Dengan demikian, genangan yang selalu terjadi setiap kali hujan di  Jakarta bisa dikurangi. (ARN) 



Blog EntryOct 30, '07 6:56 AM
for everyone
Sarie Novian - Okezone
  
NEW DELHI - Sebuah sistem yang dapat mengubah kotoran manusia menjadi biogas dan pupuk dapat membuat 2,6 miliar orang di dunia memiliki kontribusi penting dalam mengurangi pemanasan global.

Adalah Bindeshwar Pathak, seorang pendiri Organisasi Sulabh International Social Service, yang berencana mengemukakan sistem tersebut pada perayaan World Toilet Summit ke-7 di New Delhi India. Organisasi yang didirikan Pathak merupakan sebuah kelompok yang berinisiatif menyediakan toilet kepada lebih dari 730 juta penduduk di India yang kurang memahami pentingnya toilet.

"Rencana kami sepanjang milenium ini adalah menyediakan toilet kepada 2,6 miliar penduduk di dunia sampai akhir tahun 2025," ujar Pathak, seperti dikutip Yahoo News, Kamis (18/10/2007).

Ia mengemukakan betapa pentingnya sebuah toilet bagi keselamatan bumi dari global warming. India sendiri akan memberikan kontribusi berupa sistem toilet yang secara organik akan mengubah kotoran manusia menjadi senyawa biogas yang dapat dijadikan tenaga listrik atau bahan bakar untuk memasak. Sedangkan cairan urine dari manusia dapat dijadikan berbagai macam pupuk.

"Kami sangat ingin semua masyarakat mengetahui tentang teknologi ini sehingga kita bersama-sama dapat memerangi global warming," tandas Pathak. Ia bahkan menegaskan bahwa saat ini teknologi pengubah kotoran manusia itu telah berhasil diimplementasikan di Kabul, Afghanistan.

Organisasi Sulabh milik Pathak ini ditemukan pada tahun 2001. Didedikasikan sebagai organisasi toilet dunia, sebuah organisasi non-profit, yang ditujukan untuk membuat sanitasi dengan lebih dari 55 anggota dan 42 negara. (sar)
http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=54377&Itemid=55

Blog EntryOct 30, '07 6:54 AM
for everyone
Sarie Novian - Okezone
  
NEW YORK - Sebuah teknologi ternyata mampu memisahkan karbon dioksida pada plastik menjadi gas alam. Bahkan sebuah plastik mampu mengurangi kapasitas gas rumah kaca di atmosfir bumi.

Seperti dikutip Live Science, Minggu (28/10/2007), teknologi tersebut juga dapat dimodifikasi untuk mengisolasi gas alam dari membusuknya sampah atau memfilter kotoran pada air.

Seperti sebuah busa sponge, plastik buatan tersebut memungkinkan karbon dioksida atau molekul lainnya keluar melalui pori-pori namun tetap menahan laju senyawa methanol, sebuah molekul khusus dari gas alam.

Para ilmuwan penemu bahan plastik baru ini mengatakan bahwa selaput dalam plastik buatan ini mampu memfilter karbon dioksida empat kali lebih efektif dan 100 kali lebih cepat daripada selaput pada plastik konvensional.

Mereka menyebut temuan ini sebagai TR plastic. Kependekan dari 'thermally rearranged" plastic karena plastik ini dibuat dengan menggunakan pengatur panas inovatif yang memungkinkan pengaturan panas secara tepat melalui ukuran pori-pori. (sar)
http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=56725&itemid=26

Blog EntryOct 23, '07 5:52 AM
for everyone
Agenda Kegiatan

Gara-gara Komposter, Pak Kamto Kebanjiran Order


Unilever Peduli/Andri
Komposter buatan Sukamto dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas bioaktivator air lindi pada proses pembuatan kompos. Uniknya, salah satu keran saluran letaknya tidak di dasar tong.

JAKARTA, UNILEVER PEDULI - Bersikap peduli malahan mendatangkan banyak manfaat. Begitulah yang dialami Sukamto (57) ketika lahan seukuran 200 meter persegi di depan rumahnya di RT 014/18 Cempaka Baru, Jakarta Pusat, dua tahun lalu, cuma jadi tempat menumpuk sampah.

Nah, berbekal semangat untuk mengurangi volume sampah, bapak tiga anak yang pernah belajar di Jepang lewat OISCA ( Organization For Industrial Spiritual and Culture Advancement) itu berkreasi membuat komposter alias alat pembuat kompos. Bahan baku komposter buatan Pak Kamto---begitu warga di lingkungan memanggil Sukamto--- kebanyakan adalah tong plastik dan pipa pralon.

Uniknya, dibandingkan buatan orang lain, komposter bikinan pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini, memiliki salah satu keran saluran yang letaknya tidak di dasar tong. Keran dimaksud dipasang Pak Kamto pada posisi sedikit di atas dasar tong.

Dengan posisi keran seperti itu, papar Pak Kamto, komposter bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas bioaktivator air lindi pada proses pembuatan kompos. "Air lindi tidak seharusnya dikeluarkan lebih awal. Karena, air  lindi itu kan jadi bioaktivator," ujar Sukamto ke

Agenda Kegiatan

Gara-gara Komposter, Pak Kamto Kebanjiran Order


Unilever Peduli/Andri
Komposter buatan Sukamto dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas bioaktivator air lindi pada proses pembuatan kompos. Uniknya, salah satu keran saluran letaknya tidak di dasar tong.

JAKARTA, UNILEVER PEDULI - Bersikap peduli malahan mendatangkan banyak manfaat. Begitulah yang dialami Sukamto (57) ketika lahan seukuran 200 meter persegi di depan rumahnya di RT 014/18 Cempaka Baru, Jakarta Pusat, dua tahun lalu, cuma jadi tempat menumpuk sampah.

Nah, berbekal semangat untuk mengurangi volume sampah, bapak tiga anak yang pernah belajar di Jepang lewat OISCA ( Organization For Industrial Spiritual and Culture Advancement) itu berkreasi membuat komposter alias alat pembuat kompos. Bahan baku komposter buatan Pak Kamto---begitu warga di lingkungan memanggil Sukamto--- kebanyakan adalah tong plastik dan pipa pralon.

Uniknya, dibandingkan buatan orang lain, komposter bikinan pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini, memiliki salah satu keran saluran yang letaknya tidak di dasar tong. Keran dimaksud dipasang Pak Kamto pada posisi sedikit di atas dasar tong.

Dengan posisi keran seperti itu, papar Pak Kamto, komposter bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas bioaktivator air lindi pada proses pembuatan kompos. "Air lindi tidak seharusnya dikeluarkan lebih awal. Karena, air  lindi itu kan jadi bioaktivator," ujar Sukamto kepada Bumi Kita, pada September lalu.

Gara-gara "perbedaan" itu pun, kenang Sukamto, Lurah Cempaka Baru malahan jatuh hati sama komposter tersebut. Alhasil, 250 komposter ukuran 60 liter pun berpindah tangan. Banderol untuk satu komposter sekitar Rp220 ribu. "Ini peluang bisnis," aku Sukamto yang makin setia melayani order alias permintaan semisal dari Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Maluku, untuk komposter buatannya.

Tak berhenti sampai di situ saja, Sukamto juga membuat beberapa variasi komposter selain yang berukuran 60 liter. Saat ini, contohnya, ada juga komposter berkapasitas 220 liter.

Sukamto pun masih menyediakan waktu untuk memberikan pelatihan membuat kompos yang benar. Sementara, lahan di depan rumahnya kini sudah menjelma menjadi kebun sayur organik dan pusat Tanaman Obat Keluarga (Toga) tak hanya bagi warga kawasan RT 014/18 Cempaka Baru. Lihatlah, seluruh tanaman di lahan itu tumbuh subur karena kompos hasil komposter kepeloporan Sukamto! (Andri)  

pada Bumi Kita, pada September lalu.

Gara-gara "perbedaan" itu pun, kenang Sukamto, Lurah Cempaka Baru malahan jatuh hati sama komposter tersebut. Alhasil, 250 komposter ukuran 60 liter pun berpindah tangan. Banderol untuk satu komposter sekitar Rp220 ribu. "Ini peluang bisnis," aku Sukamto yang makin setia melayani order alias permintaan semisal dari Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Maluku, untuk komposter buatannya.

Tak berhenti sampai di situ saja, Sukamto juga membuat beberapa variasi komposter selain yang berukuran 60 liter. Saat ini, contohnya, ada juga komposter berkapasitas 220 liter.

Sukamto pun masih menyediakan waktu untuk memberikan pelatihan membuat kompos yang benar. Sementara, lahan di depan rumahnya kini sudah menjelma menjadi kebun sayur organik dan pusat Tanaman Obat Keluarga (Toga) tak hanya bagi warga kawasan RT 014/18 Cempaka Baru. Lihatlah, seluruh tanaman di lahan itu tumbuh subur karena kompos hasil komposter kepeloporan Sukamto! (Andri)  


Blog EntryOct 15, '07 4:21 AM
for everyone

    Jakarta, 15/10 (ANTARA) - Pengelolaan sampah di Jakarta akan dibenahi dengan melibatkan semua komponen masyarakat sehingga sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun juga warga kota secara keseluruhan.
    Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Jakarta akhir pekan lalu mengatakan pemerintah Jakarta dalam waktu dekat akan mencanangkan Gerakan Pembersihan Sampah yang juga mencakup Gerakan Kebersihan Masyarakat.
    "Kita akan aktifkan kembali SIlaturhami Minggu Pagi fokusnya pada kebersihan kemudian dari situ kita belajar mengelola sampah. Sekarang cukup banyak RT/RW yang bisa memproses sampah rumah tangga jadi kompos atau bahan baku untuk kompos," katanya.
     Fauzi  menambahkan sesuai pengalaman dan evaluasi yang dilakukan program itu cukup menjanjikan antara lain memberikan pemahaman pada masayarakat bahwa sampah itu memiliki keuntungan, ada nilai jual. Selain itu secara sosial mengakrabkan jaring masyarakat pada ljenjang RT dan RW .
    "Juga akan mengurangi jumlah volume sampah yang harus dibawa ke tempat lain. Memang masing-masing RT dan RW memiliki proses yang tidak selamanya sama. Ada yang manfaatkan lahan terbuka ada pula yang menggunakan ruang komunitasnya itu untuk dengan ditumpuk kontainer. Semua bisa dijalankan, ini membuat program menarik. Karena tidak tergantung dengan ketersediaan ruang yang begitu luas," tegasnya.
    Bila program ini berhasil, maka Fauzi menyatakan keyakinannya  Satu tahun ke depan akan menjadi gerakan massal dan dipastikan akan mengurangi volume sampah yang diangkut ke tempat pemrosesan sebesar 30-40 persen.
    Selain sampah daratan, Gubernur DKI juga mengharapkan permasalahan
sampah di Teluk Jakarta dapat dituntaskan.
    "Kita akan kombinasikan rencana kita untuk membersihkan kotoran sungai. Saya berharap sampah yang mengalir di Teluk Jakarta akan berkurang. Sementara itu tidak terlalu lama, saya juga  akan luncurkan Gerakan Bersih Teluk Jakarta. Itu merupakan langkah awal. Saat ini semua harus berjalan simultan. Kalau sekarang bersihkan sampah di Teluk Jakarta sementara sampah masih dibuang di sungai, masih sulit kita kontrol," paparnya.
    Meski demikian ia mengakui untuk melakukan hal tersebut tidaklah mudah.
    "Tentu ada kesulitan yang kita hadapi, yakni kesulitan berupa kenyataan bahwa sampah yang ada di Teluk Jakarta tidak hanya diakibatkan pencemarannya dari 13 sungai yang masuk ke Teluk Jakarta, tapi pencemaran sampah di Teluk Jakarta itu juga berasal dari lokasi lain. Itu yang jadi tantangan kita, tapi  paling tidak jika 13 sungai bisa dikontrol mudah-mudahan Teluk Jakarta tidak akan tercemar seperti sekarang ini," kata Fauzi.
    Sebelumnya sejumlah dinas di lingkungan Pemprov DKI antara lain Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Kebersihan merencanakan membendung sampah yang mengalir dari 13 sungai dan bermuara di Teluk Jakarta untuk mengurangi atau meminimalisasi  jumlah sampah yang masuk ke wilayah tersebut sekaligus memudahkan proses pembuangannya.
    Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bharuna usai menghadiri rapat paripurna di gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu, mengatakan hal itu dilakukan untuk memudahkan pengangkutan dan pembersihan sampah yang selama ini mengotori wilayah tersebut dan pada akhirnya merusak lingkungan di sekitar Teluk Jakarta.
      Menurut catatan Dinas Kebersihan DKI Jakarta, rata-rata volume sampah yang memasuki Teluk Jakarta mencapai 300 hingga 600 meter kubik per hari.

Sumber: Antara News 15/10/2007 11:58:04


Blog EntrySep 30, '07 10:22 PM
for everyone

Salah satu dari pola hidup hijau yang dapat kita laksanakan adalah mengelola sampah organic rumah tangga, dengan membuatnya menjadi kompos.

Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik.  Pembuatannya tidak terlalu rumit, tidak memerlukan tempat luas dan tidak memerlukan banyak peralatan dan biaya. Hanya memerlukan persiapan pendahuluan, sesudah itu kalau sudah rutin, tidak merepotkan bahkan selain mengurangi masalah pembuangan sampah, kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sendiri, tidak perlu membeli.

Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, zat makanan yang diperlukan tumbuhan akan tersedia. Mikroba yang ada dalam kompos akan membantu penyerapan zat makanan yang dibutuhkan tanaman. Tanah akan menjadi lebih gembur. Tanaman yang dipupuk dengan kompos akan tumbuh lebih baik. Hasilnya bunga-bunga berkembang, halaman menjadi asri dan teduh. Hawa menjadi segar karena oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan.

Bagaimana Kompos Terjadi
Sampah organic secara alami akan mengalami peruraian oleh berbagai jenis mikroba, binatang yang hidup di tanah, enzim dan jamur. Proses peruraian ini memerlukan kondisi tertentu, yaitu suhu, udara dan kelembaban. Makin cocok kondisinya, makin cepat pembentukan kompos, dalam 4 – 6 minggu sudah jadi. Apabila sampah organic ditimbun saja, baru berbulan-bulan kemudian menjadi kompos. Dalam proses pengomposan akan timbul panas krn aktivitas mikroba. Ini pertanda mikroba mengunyah bahan organic dan merubahnya menjadi kompos. Suhu optimal untk pengomposan dan harus dipertahankan adalah 45-65C.Jika terlalu panas harus dibolak-balik, setidak-tidaknya setiap 7 hari.

Peralatan
Di dalam rumah ( ruang keluarga, kamar makan ) dan di depan dapur disediakan 2 tempat sampah yang berbeda warna untuk sampah organic dan sampah non-organic. Diperlukan bak plastic atau drum bekas untuk pembuatan kompos. Di bagian dasarnya diberi beberapa lubang untuk mengeluarkan kelebihan air. Untuk menjaga kelembaban bagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu. Dasar bak pengomposan dapat tanah atau paving block, sehingga kelebihan air dapat merembes ke bawah. Bak pengomposan tidak boleh kena air hujan, harus di bawah atap.

Cara Pengomposan
- Campur 1 bagian sampah hijau dan 1 bagian sampah coklat.
- Tambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan dicampur. Tanah atau kompos ini mengandung mikroba aktif yang akan bekerja mengolah sampah menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak ( ayam atau sapi ) dapat pula dicampurkan .
- Pembuatan bisa sekaligus, atau selapis demi selapis misalnya setiap 2 hari ditambah sampah baru. Setiap 7 hari diaduk.
- Pengomposan selesai jika campuran menjadi kehitaman, dan tidak berbau sampah. Pada minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos, sehingga suhu menjadi sekitar 40C. Pada minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal, kompos sudah jadi.
- Jika perlu diayak untuk memisahkan bagian yang kasar. Kompos yang kasar bisa dicampurkan ke dalam bak pengomposan sebagai activator.

Keberhasilan pengomposan terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk berkembang biak, ialah makanan cukup (bahan organic), kelembaban (30-50%) dan udara segar (oksigen) untuk dapat bernapas.

Sampah organic sebaiknya dicacah menjadi potongan kecil. Untuk mempercepat pengomposan, dapat ditambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism (EM) yang dapat dibeli di toko pertanian.

Penutup

Apabila setiap rumah tangga melakukan pemilahan sampahnya: yang organic dijadikan kompos, yang non-organik disedekahkan kepada pemulung, maka pemerintah tinggal mengelola sisanya yang 10% saja,yang tidak dapat didaur ulang. Alangkah senangnya pemulung, kalau penghuni rumah sudah memilah sampahnya, sehingga mereka tinggal mengambil kertas, plastic dsb. yang tidak dikotori sisa makanan, tanpa mengobrak-abrik bak sampah (maaf) berebutan dengan anjing dan kucing. Jam kerjanya akan lebih pendek, uang yang diperoleh akan lebih banyak.

Pembuatan kompos ini dapat pula dilakukan secara kolektif, apabila keadaan tidak memungkinkan. Misalnya perumahan padat penduduk, atau apartemen. Pengelolaannya dapat diserahkan kepada RW atau pihak swasta. Namun masing-masing rumah tangga tetap harus melakukan pemilahan sampahnya. Sehingga tidak perlu lagi ada TPA yang memerlukan tanah luas dan menimbulkan masalah pencemaran, bahaya longsor, pendangkalan sungai, penyakit dsb.

Marilah…..kita menjadi pelopor, penggerak keluarga dan masyarakat di sekitar kita.  Selain ikut memelihara lingkungan hidup, juga beribadah.
Mulailah dari yang kecil.
Mulailah dari diri sendiri.
Mulailah sekarang juga.

ajakan dari:
Djamaludin Suryohadikusumo
mantan mentri kehutanan RI

HASAN POERBO

http://hasanpoerbo.blogspot.com/2006/05/mari-membuat-kompos-skala-rumah-tangga.html


Blog EntrySep 21, '07 2:21 AM
for everyone

Kawasan wisata alam merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi, baik oleh wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara yang menyenangi nuansa alami.  Selain itu kawasan wisata alam adalah sarana tempat terjadinya interaksi sosial dan aktivitas ekonomi.

Untuk menjaring masyarakat dan wisatawan sebanyak mungkin, setiap kawasan wisata alam harus menjaga keunikan, kelestarian, dan keindahannya. Semakin banyak kunjungan wisatawan, maka aktivitas dikawasan tersebut akan meningkat, baik aktivitas sosial maupun ekonomi. Setiap aktivitas yang dilakukan, akan menghasilkan manfaat ekonomi bagi kawasan tersebut.  Namun yang harus diingat adalah bahwa limbah atau sampah yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut dapat mengancam kawasan wisata alam. 

Sampah apabila dibiarkan tidak dikelola dapat menjadi ancaman yang serius bagi kelangsungan dan kelestarian kawasan wisata alam. Sebaliknya, apabila dikelola dengan baik, sampah memiliki nilai potensial, seperti penyediaan lapangan pekerjaan, peningkatan kualitas dan estetika lingkungan, dan pemanfaatan lain sebagai bahan pembuatan kompos yang dapat digunakan untuk memperbaiki lahan kritis di berbagai daerah di Indonesia, dan dapat juga mempengaruhi penerimaan devisa negara.

Pengertian Sampah

Sampah adalah semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan kegiatan pertanian. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan tempat perdagangan dikenal dengan limbah municipal yang tidak berbahaya (non hazardous). 

Soewedo   (1983) menyatakan bahwa sampah adalah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan yang biologis.

Komposisi Sampah

Berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan menjadi dua, yaitu:

1.    Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos;

2.    Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya.  Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton;

Di negara-negara berkembang komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik, sebesar 60 – 70%, dan sampah anorganik sebesar ± 30%.

Ancaman Bagi Kawasan Wisata Alam

Dampak negatif yang ditimbulkan dari sampah yang tidak dikelola dengan baik adalah sebagai berikut:

a.    Gangguan Kesehatan:

·   Timbulan sampah dapat menjadi tempat pembiakan lalat yang dapat mendorong penularan infeksi;

·   Timbulan sampah dapat menimbulkan penyakit yang terkait dengan tikus;

b.    Menurunnya kualitas lingkungan

c.    Menurunnya estetika lingkungan

Timbulan sampah yang bau, kotor dan berserakan akan menjadikan lingkungan tidak indah untuk dipandang mata;

d.    Terhambatnya pembangunan negara

Dengan menurunnya kualitas dan estetika lingkungan, mengakibatkan pengunjung atau wisatawan enggan untuk mengunjungi daerah wisata tersebut karena merasa tidak nyaman, dan daerah wisata tersebut menjadi tidak menarik untuk dikunjungi. Akibatnya jumlah kunjungan wisatawan menurun, yang berarti devisa negara juga menurun. 

Pengelolaan Sampah

Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti filosofi pengelolaan sampah. Filosofi pengelolaan sampah adalah bahwa semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya, maka pengelolaannya akan menjadi lebih mudah dan baik, serta lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit.

Tahapan Pengelolaan sampah yang dapat dilakukan di kawasan wisata alam adalah:

a.    Pencegahan dan Pengurangan Sampah dari Sumbernya

Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan sampah organik dan anorganik dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik  disetiap kawasan yang sering dikunjungi wisatawan.  

b.    Pemanfaatan Kembali

Kegiatan pemanfaatan sampah kembali, terdiri atas:

1).  Pemanfaatan sampah organik, seperti composting (pengomposan).  Sampah yang mudah membusuk dapat diubah menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan fungsi kawasan wisata. 

Berdasarkan hasil, penelitian diketahui bahwa dengan melakukan kegiatan composting sampah organik yang komposisinya mencapai 70%, dapat direduksi hingga mencapai 25%.

     
 
Gb.1. Proses Pemilahan Sampah

Gb.2. Proses Pembuatan Kompos
     

 2).  Pemanfaatan sampah anorganik, baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang.  Sedangkan pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastik, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan.

c.    Tempat Pembuangan Sampah Akhir

Sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan composting maupun pemanfaatan sampah anorganik, jumlahnya mencapai ±  10%, harus dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA).  Di Indonesia, pengelolaan TPA menjadi tanggung jawab masing-masing Pemda.

Dengan pengelolaan sampah yang baik, sisa sampah akhir yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi hanya sebesar ± 10%.  Kegiatan ini tentu saja akan menurunkan biaya pengangkutan sampah bagi pengelola kawasan wisata alam, mengurangi luasan kebutuhan tempat untuk lokasi TPS, serta memperkecil permasalahan sampah yang saat ini dihadapi oleh banyak pemerintah daerah.

Penutup

Pengelolaan sampah yang dilakukan di kawasan wisata alam, akan memberikan banyak manfaat, diantaranya adalah:

a.    Menjaga keindahan, kebersihan dan estetika lingkungan kawasan sehingga menarik wisatawan untuk berkunjung;

b.    Tidak memerlukan TPS yang luas, sehingga pengelola wisata dapat mengoptimalkan penggunaan pemanfaatan kawasan;

c.    Mengurangi biaya angkut sampah ke TPS;

d.    Mengurangi beban Pemda dalam mengelola sampah.

 

source: http://www.dephut.go.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_4.htm


Blog EntrySep 21, '07 1:59 AM
for everyone

Logo Daur UlangAnda pasti sudah pernah mendengar istilah 3R diatas yang sering didengungkan oleh banyak pencinta lingkungan. 3R itu adalah Reduce, Reuse and Recycle. Kita akan tambahkan 3R tersebut menjadi 4R dengan adanya Repair.

Reduce berarti kita mengurangi penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan. Reduce juga berarti mengurangi belanja barang-barang yang anda tidak “terlalu” butuhkan seperti baju baru, aksesoris tambahan atau apa pun yang intinya adalah pengurangan kebutuhan. Kurangi juga penggunaan kertas tissue dengan sapu tangan, kurangi penggunaan kertas di kantor dengan print preview sebelum mencetak agar tidak salah, baca koran online, dan lainnya.

Reuse sendiri berarti pemakaian kembali seperti contohnya memberikan baju-baju bekas anda ke yatim piatu. Tapi yang paling dekat adalah memberikan baju yang kekecilan pada adik atau saudara anda, selain itu baju-baju bayi yang hanya beberapa bulan dipakai masih bagus dan bisa diberikan pada saudara yang membutuhkan.

Recycle adalah mendaur ulang barang. Paling mudah adalah mendaur ulang sampah organik di rumah anda, menggunakan bekas botol plastik air minum atau apapun sebagai pot tanaman, sampai mendaur ulang kertas bekas untuk menjadi kertas kembali. Daur ulang secara besar-besaran belum menjadi kebiasaan di Indonesia. Tempat sampah yang membedakan antara organik dan non-organik saja tidak jalan. Malah akhirnya lebih banyak gerilyawan lingkungan yang melakukan daur ulang secara kreatif dan menularkannya pada banyak orang dibandingkan pemerintah.

Repair menjadikan 3R menjadi 4R. Repair memang banyak dilupakan oleh banyak orang, dan ini sebenarnya adalah hal yang terpenting di Indonesia. Repair adalah usaha perbaikan demi lingkungan. Contoh memperbaiki barang-barang yang rusak agar bisa kita gunakan kembali seperti sepatu jebol yang kita perbaiki karena dengan begitu kita tidak perlu membeli sepatu baru. Hal lain yang lebih besar adalah reboisasi atau perbaikan lahan kritis karena dengan ini kita bisa memiliki daerah resapan yang lebih besar dan menahan limpahan air yang bisa menyebabkan longsor. Penanaman bakau juga merupakan perbaikan lingkungan. Vulkanisir ban juga repair sehingga dapat kita reuse.

Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan dari repair ini sendiri dan sangat diperlukan di Indonesia. Yang terpenting adalah kreativitas dan kemauan karena tanpa keinginan yang kuat, membuang sampah di jalan pun menjadi mudah. Tapi kalau anda sudah membiasakan diri dengan hidup yang menghargai lingkungan, maka dengan mudah anda dapat menahan diri.

Source: http://akuinginhijau.wordpress.com


Blog EntrySep 20, '07 1:44 AM
for everyone

Di tempat sampah kota besar, botol plastik bekas menggunung terus makin tinggi dan tak dapat hancur bersama sampah yang lain. Masyarakat Jepang (dan kita juga sedikit-sedikit), merasa cemas bahwa tempat pembuangan sampah akhir (TPA) nanti hanya tersisa sedikit, dengan umur penggunaan hanya 10 tahun. Apakah sesudah itu kita jadi terpaksa hidup berdampingan dengan sampah yang tidak mempunyai TPA lagi?

Tidak! Orang Jepang (dan mestinya kita juga di Indonesia) berusaha mati-matian menghentikan peningkatan sampah plastik itu dengan pendauran ulang. Itu semua nenek-nenek juga sudah tahu! Tapi mungkin yang belum diketahui ialah daur ulang di Jepang itu dilakukan secara besar-besaran, dengan melibatkan seluruh rakyat, lengkap dengan undang-undang yang disetujui DPRD segala. Yaitu UU Pengumpulan Sampah Terpilah dan Daur Ulang Kaleng dan Kemasan (1997). Sebagai negara hukum, mestinya kita juga pantas menciptakan undang-undang sampah semacam itu.

Dalam undang-undang itu diperjelas tanggung jawab pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan produksi, dan para konsumen. Para konsumen bertanggung jawab untuk memilah-milah sampah masing-masing (sampah basah, sampah kering yang dipilah-pilah lagi menjadi botol gelas dan plastik, kaleng aluminium, dan kertas), sedangkan pemerintah daerah bertanggung jawab mengorganisasi pengumpulan sampah itu untuk diserahkan ke pabrik pendaur ulang. Pabrik pendaur ulang ini bertanggung jawab untuk mendaur ulang bahan yang sudah dipilah-pilah dan dikumpulkan itu.

Pemilahan sampah itu dimulai dari tingkat RT, pasar swalayan (yang lebih bisa diatur daripada pasar tradisional), kantor-kantor, hotel, dan apartemen. Untuk tiap bahan disediakan bak sampah tersendiri, sehingga rakyat yang sebelumnya sudah diberi penerangan dan buku panduan tinggal memasukkan bahan yang bersangkutan ke bak khusus ini. Tidak dicampur-aduk seperti sampah rumah tangga "primitif" sebelumnya.

Sudah sejak dari rumah masing-masing, sampah penduduk kota dipilah-pilah menjadi sampah basah dan sampah kering. Sebenarnya, ini juga sudah kita lakukan di wilayah tertentu di Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Tetapi rumah tangga penduduk Kotamadya Fujiyoshida di Propinsi Yamanashi, melangkah lebih maju dengan menyediakan bak sampah kering hasil pemilahan lebih lanjut di rumah masing-masing. Ada bak sampah plastik, bak gelas, bak logam, dan bak untuk kertas. Sesudah penuh, sampah masing-masing kategori itu dibawa ke tempat pengumpulan kepunyaan pemerintah kota.

Pemerintah kota ini menyediakan mobil-mobil pengumpul sampah yang sudah terpilah itu. Di Jakarta juga ada mobil-mobil sampah, tetapi yang dipungut masih sampah campuran.

Selain memudahkan rakyat membuang sampah yang sudah terpilah, pemerintah kota Fujiyoshita juga mengedarkan buku panduan melalui para tokoh masyarakat dan mendirikan badan konsultasi kalau ada rakyat yang memerlukan penyuluhan bagaimana caranya berpartisipasi dalam gerakan yang sudah diberi undang-undang itu.

Plastik hasil pengumpulan itu dijadikan serpihan "plastik daur ulang", yang kemudian dipakai untuk membuat barang plastik generasi baru, seperti botol (lagi), karpet, filter air.

Kertas bekas seperti sobekan karcis kereta api, koran bekas, dan kertas komputer bekas dijadikan pulp untuk membuat kertas toilet dan karton pengemas (lagi). Dus kemasan semacam ini biasanya diberi tulisan jelas: Dibuat dari kertas daur ulang. (SS)


 


Ilustrasi: Anton
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.